Bukan Sekadar Piknik, Aktivitas Alam Paling Ampuh buat Recovery Mental Karyawan agar Tetap Waras
Vendor Outbound- Layar
monitor yang menyala 8 jam sehari ndelalah bukan cuma bikin mata sepet, tapi
juga menguras "baterai" perhatian kita hingga ke titik nol. Di
Indonesia, fenomena ini makin nyata; banyak robot kubikel yang fisiknya di
kantor, tapi jiwanya sudah melayang entah ke mana akibat burnout.
Masalahnya,
banyak yang mengira obat stres hanyalah tidur seharian, padahal alam punya cara
yang lebih "ndaging" untuk melakukan kalibrasi ulang pada sistem
saraf kita.
Saya sering
melihat tim yang dipaksa lembur tanpa jeda biasanya berakhir dengan penurunan
performa yang drastis. Fenomena biophilia menunjukkan bahwa manusia
punya ikatan alami dengan bentuk kehidupan lain
Maka,
membawa tim keluar ruangan bukan sekadar urusan piknik hura-hura, melainkan
upaya medis sukarela untuk menurunkan detak jantung dan tekanan darah yang
sudah di ambang batas.
Pasif vs Aktif: Mana yang Lebih "Nendang"?
Dalam dunia
pemulihan mental, tidak semua orang butuh lari maraton di tengah hutan. Ada dua
kubu aktivitas yang punya dampak berbeda bagi kondisi psikis karyawan.
Saya
sarankan manajemen untuk membedah dulu jenis kelelahan timnya sebelum memilih
agenda luar ruang.
Aktivitas
pasif berfokus pada observasi dan penyerapan energi alam secara tenang.
Contohnya:
- Shinrin-yoku (Forest Bathing): Cukup masuk ke hutan, diam,
dan biarkan panca indra menyerap aroma phytoncides dari pohon. Nggak
perlu jauh-jauh ke Jepang buat Shinrin-yoku, lho. Cukup melipir ke hutan pinus di area Batu atau sekadar jalan tanpa alas kaki di rumput Alun-alun
pas pagi hari wes cukup buat grounding.
- Grounding (Earthing): Berjalan tanpa alas kaki di
atas rumput pagi untuk menyeimbangkan energi tubuh secara instan.
- Meditasi Visual: Sekadar duduk diam melihat
transisi warna langit saat matahari terbit atau terbenam.
Di sisi
lain, aktivitas aktif atau Green Exercise melibatkan gerakan fisik yang
lebih dinamis. Ini cocok untuk tim yang butuh penyaluran energi negatif lewat
keringat. Jalan santai di taman kota selama 30 menit atau bersepeda di akhir
pekan memicu pelepasan endorfin yang membuat perasaan lebih "plong".
Mengapa Alam Bukan Sekedar Opsional?
Menurut
pengamatan saya di lapangan, perusahaan yang menerapkan durasi minimal 120
menit per minggu di alam terbuka cenderung punya tingkat turnover
karyawan yang lebih rendah.
Alam
memberikan stimulasi lembut yang memungkinkan "kelelahan perhatian"
akibat layar digital bisa pulih secara alami.
"Kita
sering terjebak pada hasil, tapi lupa pada alat produksinya, yaitu otak
manusia. Aktivitas luar ruang itu ibarat me-restart mesin yang sudah
panas," ujar seorang mentor HR senior yang saya temui di sela acara
gathering.
Analisis
ini sejalan dengan teori Attention Restoration Theory, di mana alam
memberikan ruang bagi otak untuk beristirahat tanpa distraksi notifikasi yang
terus-menerus memborbardir fokus.
Cara Mengatasi Burnout Karyawan Lewat Kebiasaan Kecil
Meski
aktivitas alam ini punya segudang manfaat, saya juga harus jujur soal
hambatannya. Sering kali, karyawan merasa terlalu lelah bahkan hanya untuk
sekadar jalan ke taman.
Di sinilah
peran perusahaan sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung
kesehatan mental tanpa menambah beban kerja baru. Memberikan fleksibilitas
waktu untuk lari pagi atau menyediakan area hijau kecil di kantor bisa jadi
langkah awal.
Namun,
solusi jangka panjang tetaplah pada budaya kerja. Jangan sampai sesi
"healing" di alam justru terganggu oleh pesan WhatsApp grup kantor
yang tidak tahu waktu.
Recovery
mental hanya akan terjadi jika ada pemutusan hubungan total dengan sumber stres
untuk sementara waktu. Sebagai penutup, investasi pada kewarasan tim adalah
bentuk investasi pada inovasi.
Karyawan
yang segar mentalnya akan lebih mudah menemukan solusi kreatif dibandingkan
mereka yang dipaksa bekerja dalam kondisi "mati rasa". Jadi, sebelum
tim kamu benar-benar ambyar, ajaklah mereka menghirup aroma tanah basah dan
melihat hijaunya pepohonan.
Kalau buat kamu sendiri, lebih milih diem 'di tengah hutan' atau sepedaan keliling kota buat buang stres? Tulis di kolom komentar ya, siapa tahu bosmu baca!
![]() |
| Trekking ringan di alam sebagai Cara Mengatasi Burnout Karyawan. |
FAQ
- Aktivitas apa yang kamu lakukan
untuk menjaga kesehatan mental di kantor? Selain mengambil jeda singkat
setiap 2 jam, saya rutin melakukan jalan santai di area terbuka hijau
minimal 15 menit setiap sore untuk menurunkan kadar kortisol.
- Bagaimana perusahaan bisa
menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental? Dengan cara memberikan
kejelasan prioritas, menghargai batas waktu kerja (tidak ada chat kantor
saat libur), dan menyediakan program recovery seperti aktivitas alam
secara rutin.
- Bagaimana cara menguatkan
mental di dunia kerja yang kompetitif? Kunci utamanya adalah manajemen ekspektasi dan
keseimbangan hidup. Memastikan ada waktu untuk aktivitas luar ruang secara
rutin membantu otak tetap jernih dalam mengambil keputusan.
- Cara meningkatkan kesadaran
tentang kesehatan mental di tempat kerja? Melalui edukasi terbuka,
normalisasi pembicaraan tentang stres tanpa stigma, dan menunjukkan
teladan dari level pimpinan bahwa istirahat adalah bagian dari kerja
profesional.
- Berapa lama durasi ideal di
alam untuk meredakan stres?
Studi menunjukkan minimal 120 menit per minggu sudah cukup memberikan
dampak signifikan. Kamu bisa membaginya menjadi sesi kecil 20 menit setiap
harinya.
Sumber:
https://cleopurewater.com/
https://aido.id/health-articles/
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/
Penulis: Rachel Wijayani
.png)


