Waduk Bajulmati dan Kuliner, Bonus Trip yang Haram Dilewatkan!

Waduk Bajulmati dan Kuliner, Bonus Trip yang Haram Dilewatkan!

Ringkasan Artikel: mengajak anda mengeksplorasi sisi lain Pantai Bama melalui jalur trekking mangrove yang kaya akan biodiversitas unik seperti burung Raja Udang dan kepiting biola. Selain itu, tulisan ini memberikan tips praktis mengenai waktu kunjungan terbaik berdasarkan pasang surut air laut serta etika berwisata di ekosistem sensitif tersebut.

Pernah nggak sih kamu merasa sayang kalau harus langsung pulang ke rumah setelah menempuh perjalanan jauh, padahal di sebelah tempat wisatamu ada surga lain yang "gratis"? Rasanya itu seperti sudah beli paket burger mahal, tapi lupa ambil kentang gorengnya yang ternyata sudah termasuk dalam harga paket.

Nah, meninggalkan kawasan Baluran tanpa mampir sebentar ke Waduk Bajulmati atau mencicipi kuliner pedas khas perbatasan itu adalah kesalahan strategi yang fatal. Banyak wisatawan yang terlalu lelah main di savana, lalu buru-buru tancap gas pulang, padahal cuma butuh geser dikit buat dapat pemandangan ala "Raja Ampat" versi hemat.

Waduk Bajulmati dan deretan warung kuliner di jalur Pantura ini adalah penutup yang manis (dan pedas) untuk menyempurnakan lelahmu seharian. Kalau kamu melewatkan kesempatan ini, kamu bakal menyesal saat melihat temanmu posting foto berlatar gugusan pulau hijau yang ternyata lokasinya cuma selemparan batu dari gerbang Baluran.

Aku nggak mau kamu sampai rumah dengan perut keroncongan dan galeri foto yang kurang variatif, makanya panduan bonus ini wajib kamu baca. Yuk, kita intip destinasi "beli 1 dapat 2" ini supaya liburanmu benar-benar full experience dari mata sampai lidah.

 

Miniatur Raja Ampat di Perbatasan Kota

Waduk Bajulmati dan Kuliner, Bonus Trip yang Haram Dilewatkan!

Hanya berjarak sekitar 10 menit berkendara dari gerbang utama Taman Nasional Baluran ke arah Banyuwangi, kamu akan menemukan sebuah waduk raksasa yang memukau. Waduk Bajulmati ini terletak persis di perbatasan antara Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, menjadikannya rest area wisata yang sangat strategis.

Daya tarik utamanya adalah gundukan-gundukan bukit kecil yang menyembul dari tengah air, mirip sekali dengan pemandangan ikonik di Wayag, Raja Ampat. Bedanya, di sini kamu bisa menikmatinya tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam untuk tiket pesawat ke Papua yang harganya selangit.

Air waduk yang berwarna biru kehijauan sangat kontras dengan bukit-bukit savana yang mengelilinginya, menciptakan gradasi warna yang menyejukkan mata. Saat musim hujan, bukit-bukit ini akan berwarna hijau segar, sementara di musim kemarau akan berubah menjadi kuning emas yang eksotis.

Kamu bisa memarkir kendaraan di area yang sudah disediakan, lalu berjalan kaki sedikit menuju spot pandang di atas tanggul waduk. Angin di sini bertiup sangat kencang karena area yang terbuka luas, jadi pegang topimu erat-erat agar tidak terbang terbawa angin.

 

Spot Sunset Paling Romantis Tanpa Biaya

Jika kamu keluar dari Baluran sore hari, maka mampir ke Waduk Bajulmati adalah keputusan terbaik untuk menutup harimu dengan elegan. Posisi waduk yang luas dan terbuka membuatnya menjadi salah satu lokasi terbaik untuk melihat matahari terbenam tanpa halangan gedung atau pohon tinggi.

Cahaya oranye matahari akan memantul sempurna di permukaan air waduk yang tenang, menciptakan efek cermin raksasa yang memukau. Siluet bukit-bukit kecil di tengah waduk akan terlihat semakin dramatis saat langit perlahan berubah warna menjadi ungu gelap.

Banyak fotografer lokal yang sengaja datang ke sini hanya untuk memburu momen golden hour yang berlangsung singkat namun magis ini. Kamu bisa duduk santai di pinggir tanggul sambil menikmati bekal sisa makan siangmu, merenungi keindahan alam ciptaan Tuhan.

Jangan lupa bawa jaket tebal, karena suhu udara di sekitar waduk bisa turun drastis begitu matahari benar-benar tenggelam. Dinginnya angin waduk sering kali menipu, membuatmu masuk angin tanpa sadar kalau tidak melindungi tubuh dengan baik.

 

Ujian Pedas Nasi Tempong yang Melegenda

Setelah puas memanjakan mata, sekarang saatnya memanjakan perut yang pasti sudah berdemo minta diisi. Di sepanjang jalur keluar Baluran menuju Banyuwangi, kamu wajib mencoba Nasi Tempong, kuliner khas yang "menampar" lidahmu dengan kepedasannya.

Kata "Tempong" dalam bahasa Osing (suku asli Banyuwangi) berarti tampar, menggambarkan sensasi pedas sambalnya yang seolah-olah menampar pipimu. Satu porsi biasanya berisi nasi putih hangat, sayuran rebus (bayam, kenikir, labu siam), tahu, tempe, ikan asin, dan tentu saja sambal mentah yang super segar.

Kunci kelezatan Nasi Tempong terletak pada sambalnya yang dibuat dadakan saat kamu memesan, menggunakan tomat ranti khas daerah setempat. Tomat ranti ini memberikan tekstur sambal yang lebih cair dan rasa asam segar yang unik, beda dengan sambal tomat biasa.

Hati-hati bagi kamu yang tidak kuat pedas, mintalah level "sedang" atau "sedikit" cabai agar perutmu tidak kaget. Tapi bagi pecinta pedas, ini adalah surga dunia yang akan membuatmu berkeringat jagung saking nikmatnya.

 

Tajin Palappa: Sarapan Unik Khas Situbondo

Jika kamu menginap di sekitar area Situbondo sebelum masuk ke Baluran pagi-pagi, jangan lewatkan sarapan dengan Tajin Palappa. Ini adalah bubur khas Situbondo yang disajikan dengan bumbu kacang yang diencerkan dan diberi topping sayuran kangkung serta tauge.

Yang membuat Tajin Palappa berbeda dari bubur ayam biasa adalah penggunaan petis ikan atau petis udang yang dicampur dalam bumbu kacangnya. Rasa gurih, manis, dan sedikit amis khas laut bercampur jadi satu di mulut, menciptakan sensasi rasa yang otentik.

Biasanya, penjual Tajin Palappa juga menambahkan gorengan ote-ote (bakwan sayur) yang dipotong kecil-kecil sebagai pelengkap tekstur renyah. Harganya sangat murah meriah, cocok buat kamu backpacker yang ingin menghemat budget makan tapi tetap kenyang.

Kamu bisa menemukan penjual bubur ini di pinggir jalan raya sekitar Panarukan atau Asembagus saat pagi hari sebelum jam 9. Setelah jam itu, biasanya mereka sudah ludes diserbu warga lokal yang juga menjadikannya menu sarapan favorit.

 

Oleh-oleh Ikan Asap Pantura yang Menggoda

Perjalanan pulang melintasi jalur Pantura Situbondo tidak akan lengkap tanpa mampir ke deretan penjual ikan asap yang berjajar di pinggir jalan. Asap mengepul dengan aroma ikan bakar yang sedap pasti akan memaksamu untuk menepikan kendaraan sejenak.

Ikan asap di sini biasanya menggunakan ikan tongkol, cakalang, atau pari (iwak pe) yang masih sangat segar hasil tangkapan nelayan lokal. Ikan-ikan ini diasap secara tradisional menggunakan sabut kelapa, memberikan aroma smoky yang khas dan awet dibawa perjalanan jauh.

Kamu bisa membeli beberapa ekor untuk dibawa pulang sebagai lauk praktis yang tinggal dipanaskan atau dimasak santan sesampainya di rumah. Harganya jauh lebih murah dibandingkan membeli di pasar kota besar, dan kualitas kesegarannya jelas terjamin.

Tips membeli: pilihlah ikan yang dagingnya masih terasa kenyal saat ditekan pelan dan matanya tidak terlalu cekung. Jangan ragu untuk menawar harga jika kamu membeli dalam jumlah banyak untuk dibagi-bagikan ke tetangga atau keluarga.

 

Rengginang Situbondo: Renyahnya Bikin Nagih

Selain ikan, Situbondo juga terkenal sebagai sentra produksi rengginang, kerupuk tebal yang terbuat dari beras ketan. Rengginang Situbondo memiliki ciri khas butiran ketan yang utuh dan rasa terasi atau bawang yang sangat kuat dan gurih.

Banyak toko oleh-oleh di sepanjang jalan raya Pasir Putih hingga Banyuputih yang menjajakan rengginang dalam kemasan mentah maupun matang. Varian rasanya kini semakin beragam, mulai dari rasa asli terasi, cumi-cumi, hingga rasa manis gula merah.

Membeli rengginang mentah adalah pilihan cerdas karena lebih hemat tempat di bagasi dan bisa digoreng sendiri di rumah saat ingin camilan hangat. Pastikan kamu menyimpannya di tempat kering agar tidak berjamur, karena rengginang ini tidak menggunakan bahan pengawet kimia.

Teksturnya yang renyah dan rasanya yang gurih menjadikan rengginang teman setia untuk minum kopi atau teh di sore hari. Hati-hati saat membawanya, karena rengginang yang sudah matang sangat mudah remuk jika tertindih barang berat di mobil.

 

Rujak Soto: Perkawinan Dua Budaya Rasa

Kalau kamu bingung mau makan soto atau rujak, di daerah perbatasan ini kamu bisa mendapatkan keduanya dalam satu mangkuk bernama Rujak Soto. Kuliner unik ini adalah perpaduan antara rujak sayur bumbu petis yang disiram dengan kuah soto daging sapi yang panas dan gurih.

Mungkin terdengar aneh bagi yang belum pernah mencoba, tapi perpaduan rasa pedas, manis, gurih, dan segar ini benar-benar bikin ketagihan. Kuah soto yang kental akan melunakkan bumbu rujak, menciptakan kuah baru yang kaya rasa dan sangat nendang.

Biasanya disajikan dengan lontong, irisan daging sapi empuk, dan kerupuk udang yang melimpah di atasnya. Makanan ini sangat cocok dinikmati saat makan siang untuk mengembalikan energi yang hilang setelah seharian trekking di hutan.

Cari warung yang ramai oleh warga lokal, karena biasanya itulah indikator warung yang memiliki racikan bumbu paling pas. Jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis dan kecap manis sesuai selera agar rasanya semakin mantap di lidah.

 

Tips Mengatur Waktu Singgah

Agar semua destinasi kuliner dan wisata bonus ini bisa kamu nikmati, manajemen waktu adalah kuncinya. Usahakan keluar dari Taman Nasional Baluran paling lambat pukul 15.30 atau 16.00 sore agar masih sempat mengejar sunset di Waduk Bajulmati.

Jarak tempuh yang dekat memungkinkanmu untuk berpindah lokasi dengan cepat tanpa kehilangan banyak waktu di jalan. Setelah puas di waduk, kamu bisa langsung mencari warung Nasi Tempong atau Rujak Soto untuk makan malam sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Jika kamu berniat membeli oleh-oleh ikan asap, sebaiknya beli saat perjalanan berangkat atau siang hari saat stok masih banyak dan segar. Penjual ikan asap kadang sudah tutup atau stoknya habis jika kamu mampir terlalu malam.

Selalu siapkan uang receh untuk parkir dan uang tunai secukupnya karena kebanyakan warung makan dan penjual oleh-oleh belum menerima pembayaran digital. Sinyal internet di jalur Pantura ini sudah lumayan bagus, jadi kamu masih bisa mengecek review Google Maps sebelum mampir.

 

Es Degan Pantura: Pelepas Dahaga Alami

Cuaca jalur Pantura yang terkenal panas menyengat akan membuat tenggorokanmu kering kerontang. Solusi terbaik bukanlah minuman bersoda, melainkan Es Degan (kelapa muda) murni yang banyak dijual di gubuk-gubuk pinggir jalan.

Kelapa muda di daerah ini biasanya diambil langsung dari pohon di sekitar pantai, sehingga airnya sangat segar dan manis alami. Kamu bisa meminumnya langsung dari batok kelapa atau meminta ditambahkan es batu dan sirup merah gula Jawa.

Daging kelapanya yang lembut sangat enak dikerok menggunakan sendok, memberikan sensasi kenyang sekaligus segar. Minuman ini adalah isotonik alami yang sangat efektif menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat keringat berlebih.

Harganya sangat bersahabat, seringkali di bawah sepuluh ribu rupiah untuk satu butir kelapa utuh yang besar. Ini adalah doping alami terbaik agar kamu tetap fokus menyetir kendaraan melintasi jalanan panjang Pantura yang lurus dan membosankan.
1. Kota Batu terkenal apa sih sampai cocok buat kerja?
Batu terkenal dengan udaranya yang dingin dan pemandangan pegunungan yang sangat asri. Karena dulunya merupakan tempat peristirahatan, infrastruktur wisatanya (seperti kafe outdoor dan penginapan) sudah sangat siap untuk mendukung orang yang mau bekerja sambil menikmati alam.
2. Kota Batu apakah beda dengan Malang?
Beda, tapi tetangga dekat. Kota Batu secara administratif adalah kota otonom yang dulunya bagian dari Kabupaten Malang. Jaraknya hanya sekitar 30-45 menit dari Kota Malang, tapi suasananya jauh lebih dingin dan lebih "hijau" karena posisinya yang lebih tinggi.
3. Kota Batu di kaki gunung apa?
Kota Batu terletak di kaki Gunung Panderman dan dikelilingi oleh jajaran Pegunungan Arjuno-Welirang serta Gunung Banyak. Inilah yang menyebabkan suhu di sini tetap sejuk sepanjang tahun, cocok banget buat kerja tanpa perlu AC.
4. Apakah internet di tempat wisata Batu stabil untuk kerja?
Di area pusat kota dan kafe populer, internet sudah sangat baik. Namun, jika Anda masuk ke area yang lebih dalam seperti area camping atau coban (air terjun), sinyal mungkin agak sulit. Sebaiknya siapkan provider cadangan atau cek lokasi sebelumnya.
5. Jam berapa waktu terbaik buat kerja outdoor di Batu?
Pagi hari antara jam 07.00 sampai jam 11.00 adalah waktu emas. Udara masih sangat segar, kabut baru saja hilang, dan biasanya tempat wisata atau kafe belum terlalu bising oleh pengunjung umum.
Lihat Sumber Informasi dan Gambar
Referensi Tulisan: 01. https://www.goersapp.com/blog/
02. https://www.jawapos.com/kuliner/
Ditulis oleh  Reza Nur Fitrah Islamy (ren)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *