Waduk Bajulmati dan Kuliner, Bonus Trip yang Haram Dilewatkan!

Pernah nggak sih kamu merasa sayang kalau harus
langsung pulang ke rumah setelah menempuh perjalanan jauh, padahal di sebelah
tempat wisatamu ada surga lain yang "gratis"? Rasanya itu seperti
sudah beli paket burger mahal, tapi lupa ambil kentang gorengnya yang ternyata
sudah termasuk dalam harga paket.
Nah, meninggalkan kawasan Baluran tanpa mampir
sebentar ke Waduk Bajulmati atau mencicipi kuliner pedas khas perbatasan itu
adalah kesalahan strategi yang fatal. Banyak wisatawan yang terlalu lelah main
di savana, lalu buru-buru tancap gas pulang, padahal cuma butuh geser dikit
buat dapat pemandangan ala "Raja Ampat" versi hemat.
Waduk Bajulmati dan deretan warung kuliner di jalur
Pantura ini adalah penutup yang manis (dan pedas) untuk menyempurnakan lelahmu
seharian. Kalau kamu melewatkan kesempatan ini, kamu bakal menyesal saat
melihat temanmu posting foto berlatar gugusan pulau hijau yang ternyata
lokasinya cuma selemparan batu dari gerbang Baluran.
Aku nggak mau kamu sampai rumah dengan perut
keroncongan dan galeri foto yang kurang variatif, makanya panduan bonus ini
wajib kamu baca. Yuk, kita intip destinasi "beli 1 dapat 2" ini
supaya liburanmu benar-benar full experience dari mata sampai lidah.
Miniatur
Raja Ampat di Perbatasan Kota

Hanya berjarak sekitar 10 menit berkendara dari
gerbang utama Taman Nasional Baluran ke arah Banyuwangi, kamu akan menemukan
sebuah waduk raksasa yang memukau. Waduk Bajulmati ini terletak persis di
perbatasan antara Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, menjadikannya rest
area wisata yang sangat strategis.
Daya tarik utamanya adalah gundukan-gundukan bukit
kecil yang menyembul dari tengah air, mirip sekali dengan pemandangan ikonik di
Wayag, Raja Ampat. Bedanya, di sini kamu bisa menikmatinya tanpa harus merogoh
kocek dalam-dalam untuk tiket pesawat ke Papua yang harganya selangit.
Air waduk yang berwarna biru kehijauan sangat kontras
dengan bukit-bukit savana yang mengelilinginya, menciptakan gradasi warna yang
menyejukkan mata. Saat musim hujan, bukit-bukit ini akan berwarna hijau segar,
sementara di musim kemarau akan berubah menjadi kuning emas yang eksotis.
Kamu bisa memarkir kendaraan di area yang sudah
disediakan, lalu berjalan kaki sedikit menuju spot pandang di atas
tanggul waduk. Angin di sini bertiup sangat kencang karena area yang terbuka
luas, jadi pegang topimu erat-erat agar tidak terbang terbawa angin.
Spot Sunset
Paling Romantis Tanpa Biaya
Jika kamu keluar dari Baluran sore hari, maka mampir
ke Waduk Bajulmati adalah keputusan terbaik untuk menutup harimu dengan elegan.
Posisi waduk yang luas dan terbuka membuatnya menjadi salah satu lokasi terbaik
untuk melihat matahari terbenam tanpa halangan gedung atau pohon tinggi.
Cahaya oranye matahari akan memantul sempurna di
permukaan air waduk yang tenang, menciptakan efek cermin raksasa yang memukau.
Siluet bukit-bukit kecil di tengah waduk akan terlihat semakin dramatis saat
langit perlahan berubah warna menjadi ungu gelap.
Banyak fotografer lokal yang sengaja datang ke sini
hanya untuk memburu momen golden hour yang berlangsung singkat namun
magis ini. Kamu bisa duduk santai di pinggir tanggul sambil menikmati bekal
sisa makan siangmu, merenungi keindahan alam ciptaan Tuhan.
Jangan lupa bawa jaket tebal, karena suhu udara di
sekitar waduk bisa turun drastis begitu matahari benar-benar tenggelam.
Dinginnya angin waduk sering kali menipu, membuatmu masuk angin tanpa sadar
kalau tidak melindungi tubuh dengan baik.
Ujian Pedas
Nasi Tempong yang Melegenda
Setelah puas memanjakan mata, sekarang saatnya
memanjakan perut yang pasti sudah berdemo minta diisi. Di sepanjang jalur
keluar Baluran menuju Banyuwangi, kamu wajib mencoba Nasi Tempong, kuliner khas
yang "menampar" lidahmu dengan kepedasannya.
Kata "Tempong" dalam bahasa Osing (suku asli
Banyuwangi) berarti tampar, menggambarkan sensasi pedas sambalnya yang
seolah-olah menampar pipimu. Satu porsi biasanya berisi nasi putih hangat,
sayuran rebus (bayam, kenikir, labu siam), tahu, tempe, ikan asin, dan tentu
saja sambal mentah yang super segar.
Kunci kelezatan Nasi Tempong terletak pada sambalnya
yang dibuat dadakan saat kamu memesan, menggunakan tomat ranti khas daerah
setempat. Tomat ranti ini memberikan tekstur sambal yang lebih cair dan rasa
asam segar yang unik, beda dengan sambal tomat biasa.
Hati-hati bagi kamu yang tidak kuat pedas, mintalah
level "sedang" atau "sedikit" cabai agar perutmu tidak
kaget. Tapi bagi pecinta pedas, ini adalah surga dunia yang akan membuatmu
berkeringat jagung saking nikmatnya.
Tajin
Palappa: Sarapan Unik Khas Situbondo
Jika kamu menginap di sekitar area Situbondo sebelum
masuk ke Baluran pagi-pagi, jangan lewatkan sarapan dengan Tajin Palappa. Ini
adalah bubur khas Situbondo yang disajikan dengan bumbu kacang yang diencerkan
dan diberi topping sayuran kangkung serta tauge.
Yang membuat Tajin Palappa berbeda dari bubur ayam
biasa adalah penggunaan petis ikan atau petis udang yang dicampur dalam bumbu
kacangnya. Rasa gurih, manis, dan sedikit amis khas laut bercampur jadi satu di
mulut, menciptakan sensasi rasa yang otentik.
Biasanya, penjual Tajin Palappa juga menambahkan
gorengan ote-ote (bakwan sayur) yang dipotong kecil-kecil sebagai pelengkap
tekstur renyah. Harganya sangat murah meriah, cocok buat kamu backpacker
yang ingin menghemat budget makan tapi tetap kenyang.
Kamu bisa menemukan penjual bubur ini di pinggir jalan
raya sekitar Panarukan atau Asembagus saat pagi hari sebelum jam 9. Setelah jam
itu, biasanya mereka sudah ludes diserbu warga lokal yang juga menjadikannya
menu sarapan favorit.
Oleh-oleh
Ikan Asap Pantura yang Menggoda
Perjalanan pulang melintasi jalur Pantura Situbondo
tidak akan lengkap tanpa mampir ke deretan penjual ikan asap yang berjajar di
pinggir jalan. Asap mengepul dengan aroma ikan bakar yang sedap pasti akan
memaksamu untuk menepikan kendaraan sejenak.
Ikan asap di sini biasanya menggunakan ikan tongkol,
cakalang, atau pari (iwak pe) yang masih sangat segar hasil tangkapan nelayan
lokal. Ikan-ikan ini diasap secara tradisional menggunakan sabut kelapa,
memberikan aroma smoky yang khas dan awet dibawa perjalanan jauh.
Kamu bisa membeli beberapa ekor untuk dibawa pulang
sebagai lauk praktis yang tinggal dipanaskan atau dimasak santan sesampainya di
rumah. Harganya jauh lebih murah dibandingkan membeli di pasar kota besar, dan
kualitas kesegarannya jelas terjamin.
Tips membeli: pilihlah ikan yang dagingnya masih
terasa kenyal saat ditekan pelan dan matanya tidak terlalu cekung. Jangan ragu
untuk menawar harga jika kamu membeli dalam jumlah banyak untuk dibagi-bagikan
ke tetangga atau keluarga.
Rengginang
Situbondo: Renyahnya Bikin Nagih
Selain ikan, Situbondo juga terkenal sebagai sentra
produksi rengginang, kerupuk tebal yang terbuat dari beras ketan. Rengginang
Situbondo memiliki ciri khas butiran ketan yang utuh dan rasa terasi atau
bawang yang sangat kuat dan gurih.
Banyak toko oleh-oleh di sepanjang jalan raya Pasir
Putih hingga Banyuputih yang menjajakan rengginang dalam kemasan mentah maupun
matang. Varian rasanya kini semakin beragam, mulai dari rasa asli terasi,
cumi-cumi, hingga rasa manis gula merah.
Membeli rengginang mentah adalah pilihan cerdas karena
lebih hemat tempat di bagasi dan bisa digoreng sendiri di rumah saat ingin
camilan hangat. Pastikan kamu menyimpannya di tempat kering agar tidak
berjamur, karena rengginang ini tidak menggunakan bahan pengawet kimia.
Teksturnya yang renyah dan rasanya yang gurih
menjadikan rengginang teman setia untuk minum kopi atau teh di sore hari.
Hati-hati saat membawanya, karena rengginang yang sudah matang sangat mudah
remuk jika tertindih barang berat di mobil.
Rujak Soto:
Perkawinan Dua Budaya Rasa
Kalau kamu bingung mau makan soto atau rujak, di
daerah perbatasan ini kamu bisa mendapatkan keduanya dalam satu mangkuk bernama
Rujak Soto. Kuliner unik ini adalah perpaduan antara rujak sayur bumbu petis
yang disiram dengan kuah soto daging sapi yang panas dan gurih.
Mungkin terdengar aneh bagi yang belum pernah mencoba,
tapi perpaduan rasa pedas, manis, gurih, dan segar ini benar-benar bikin
ketagihan. Kuah soto yang kental akan melunakkan bumbu rujak, menciptakan kuah
baru yang kaya rasa dan sangat nendang.
Biasanya disajikan dengan lontong, irisan daging sapi
empuk, dan kerupuk udang yang melimpah di atasnya. Makanan ini sangat cocok
dinikmati saat makan siang untuk mengembalikan energi yang hilang setelah
seharian trekking di hutan.
Cari warung yang ramai oleh warga lokal, karena
biasanya itulah indikator warung yang memiliki racikan bumbu paling pas. Jangan
lupa tambahkan perasan jeruk nipis dan kecap manis sesuai selera agar rasanya
semakin mantap di lidah.
Tips
Mengatur Waktu Singgah
Agar semua destinasi kuliner dan wisata bonus ini bisa
kamu nikmati, manajemen waktu adalah kuncinya. Usahakan keluar dari Taman
Nasional Baluran paling lambat pukul 15.30 atau 16.00 sore agar masih sempat
mengejar sunset di Waduk Bajulmati.
Jarak tempuh yang dekat memungkinkanmu untuk berpindah
lokasi dengan cepat tanpa kehilangan banyak waktu di jalan. Setelah puas di
waduk, kamu bisa langsung mencari warung Nasi Tempong atau Rujak Soto untuk
makan malam sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Jika kamu berniat membeli oleh-oleh ikan asap,
sebaiknya beli saat perjalanan berangkat atau siang hari saat stok masih banyak
dan segar. Penjual ikan asap kadang sudah tutup atau stoknya habis jika kamu
mampir terlalu malam.
Selalu siapkan uang receh untuk parkir dan uang tunai
secukupnya karena kebanyakan warung makan dan penjual oleh-oleh belum menerima
pembayaran digital. Sinyal internet di jalur Pantura ini sudah lumayan bagus,
jadi kamu masih bisa mengecek review Google Maps sebelum mampir.
Es Degan
Pantura: Pelepas Dahaga Alami
Cuaca jalur Pantura yang terkenal panas menyengat akan
membuat tenggorokanmu kering kerontang. Solusi terbaik bukanlah minuman
bersoda, melainkan Es Degan (kelapa muda) murni yang banyak dijual di
gubuk-gubuk pinggir jalan.
Kelapa muda di daerah ini biasanya diambil langsung
dari pohon di sekitar pantai, sehingga airnya sangat segar dan manis alami.
Kamu bisa meminumnya langsung dari batok kelapa atau meminta ditambahkan es
batu dan sirup merah gula Jawa.
Daging kelapanya yang lembut sangat enak dikerok menggunakan sendok, memberikan sensasi kenyang sekaligus segar. Minuman ini adalah isotonik alami yang sangat efektif menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat keringat berlebih.
Harganya sangat bersahabat, seringkali di bawah sepuluh ribu rupiah untuk satu butir kelapa utuh yang besar. Ini adalah doping alami terbaik agar kamu tetap fokus menyetir kendaraan melintasi jalanan panjang Pantura yang lurus dan membosankan.1. Kota Batu terkenal apa sih sampai cocok buat kerja?
2. Kota Batu apakah beda dengan Malang?
3. Kota Batu di kaki gunung apa?
4. Apakah internet di tempat wisata Batu stabil untuk kerja?
5. Jam berapa waktu terbaik buat kerja outdoor di Batu?
Lihat Sumber Informasi dan Gambar
02. https://www.jawapos.com/kuliner/
.png)