Wisata Payung Batu Malam, City Light dan Jagung Bakar

Pasangan menikmati Wisata Payung Batu malam dengan jagung bakar
Ringkasan Artikel: Wisata Payung Batu malam tetap menjadi primadona bagi pasangan yang mencari suasana romantis dengan budget minim. 

Meski fasilitasnya sederhana dan kalah pamor dengan kafe modern, sensasi makan jagung bakar lesehan sambil menikmati city light lembah Songgoriti dalam ketenangan malam menawarkan pengalaman autentik yang justru dicari oleh generasi muda saat ini.

Di tengah gempuran kafe aesthetic yang harga kopinya bisa buat beli bensin seminggu, ada satu legenda kuliner malam Batu murah yang menolak mati. Namanya Kawasan Payung.

Bagi mahasiswa Malang Raya angkatan tua, Payung adalah saksi bisu sejarah percintaan mereka. Di sinilah tempat di mana modal dua puluh ribu rupiah sudah bisa bikin pacar tersenyum lebar.

Tidak ada sofa empuk, tidak ada WiFi kencang, dan tidak ada pelayan yang menyapa dengan "Kakak".

Yang ada cuma tikar, jagung bakar, dan hamparan lampu kota yang percaya atau tidak lebih indah daripada view dari hotel bintang lima manapun. Wisata Payung Batu malam adalah definisi romantis jalur logistik buat sobat missqueen yang pengen healing tapi saldo ATM lagi teriak minta tolong.

Tapi, kalau kebetulan tanggal muda dan kamu ingin suasana yang lebih nyaman, bersih, dan bebas asap bakaran jagung, mungkin kamu lebih cocok ke tempat yang lebih proper. Cek daftar 7 Restoran City Light Batu untuk Dinner Romantis ini kalau dompet lagi tebal.


Hidup Segan, Mati Tak Mau (Tapi Tetap Dicari)

Harus diakui, kondisi Payung (baik Payung 1, 2, maupun 3) sekarang tidak seramai dulu. Dulu, cari parkir motor saja susahnya minta ampun. Sekarang, banyak warung yang tutup atau terlihat "lelah" dimakan zaman.

Faktornya banyak. Mulai dari munculnya kafe-kafe baru di pusat kota yang lebih glowing, sampai isu tanah gerak yang bikin orang agak ngeri-ngeri sedap nongkrong di pinggir tebing.

Tapi anehnya, justru di situlah daya tariknya sekarang. Karena tidak sepadat dulu, Payung jadi punya vibe eksklusif yang aneh. Sepi, tenang, dan gelap.

Menurutku, pemandangan di sini kaya jadi Tinkerbell, penuh kelap-kelip lampu di bawah sana. Cuma ya gimana ya, sepi tapi justru itu yang dicari Gen Z sama Milenial sekarang kan?

Tempat yang nggak terlalu rame, nggak berisik, bisa ngobrol deep talk tanpa harus teriak-teriak ngalahin suara musik kafe.



Menu Andalan: "Trinity" Penghangat Badan

Jangan harap nemu Spaghetti Carbonara di sini. Menu di Payung memegang teguh kearifan lokal. Berikut "Trinity" (Tiga Serangkai) penghangat badan yang wajib dipesan:

  • Jagung Bakar: Menu wajib. Bisa request pedas, manis, atau asin. Dimakan panas-panas sambil niupin jari (eh, jadi inget mantan). (Harga: Rp 10.000 - Rp 15.000)
  • Ketan Bubuk & Roti Bakar: Karbohidrat buat tenaga melawan dinginnya angin lembah Songgoriti. (Harga: Rp 8.000 - Rp 12.000)
  • STMJ (Susu Telur Madu Jahe): Minuman "doping" resmi warga Batu. Hangat di tenggorokan, hangat di badan. (Harga: Rp 12.000 - Rp 15.000)
  • Kopi Hitam: Teman setia begadang. (Harga: Rp 4.000 - Rp 6.000)

Dengan modal Rp 50.000 berdua, kalian sudah bisa kenyang sampai bego plus bonus pemandangan mahal.


Realita Lapangan: Siapkan Jaket dan Mental

Namanya juga wisata pinggir jalan, fasilitasnya ya seadanya. Toilet umum ada, tapi jangan ekspektasi sebersih toilet mall. Kadang airnya sedingin es batu.

Selain itu, karena lokasinya di jalur utama Batu-Pujon-Kediri, kalian bakal ditemani suara bus malam dan truk yang lewat sesekali. Tapi bagi sebagian orang, suara kendaraan yang lewat di tengah kabut itu justru menambah syahdu suasana. Cinematic banget lah pokoknya.

Jasa Outbound Batu Malang

Kenapa Masih Relevan di 2026?

Meskipun kafe modern menjamur, Wisata Payung Batu malam tetap punya segmen pasarnya sendiri.

Pertama, aksesnya 24 jam (tergantung warung). Mau galau jam 2 pagi? Payung siap menampung. Kedua, view-nya asli, bukan buatan. Lembah Songgoriti yang gelap dengan lampu-lampu villa di bawahnya itu pemandangan mahal yang didapat dengan harga murah.

Buat pasangan yang baru jadian atau lagi mode hemat (saving mode), tempat ini adalah penyelamat. Romantis itu nggak harus mahal, yang penting siapa orang di sebelahmu.

Kuliner legendaris jagung bakar di kawasan Payung Batu
Kuliner legendaris jagung bakar di kawasan Payung Batu

Tetap Waspada

Satu pesan buat yang mau ke sini: hati-hati. Jalurnya berkelok dan curam. Kalau musim hujan, kabut bisa turun tebal banget sampai jarak pandang cuma 5 meter.

Pastikan rem motor pakem dan bawa jaket tebal. Jangan sampai niat hati mau romantis ala drama Korea, pulangnya malah kerokan masuk angin.

Kalian tim mana? Tim Jagung Bakar Pedas atau Manis? Komen di bawah ya! Pokoknya selamat menikmati jagung bakar legendaris!


FAQ

Apakah aman nongkrong di Payung malam hari?
Relatif aman karena warung-warung di sana buka sampai larut malam dan lokasinya di pinggir jalan provinsi yang ramai lalu lalang kendaraan. Namun, tetap waspada dengan barang bawaan dan hindari duduk di area yang terlalu gelap atau jauh dari keramaian warung.
Kapan waktu terbaik ke Payung?
Sore menjelang malam (sekitar jam 17.00 - 19.00). Kalian bisa dapat momen transisi langit dari terang ke gelap, dan lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Hindari saat hujan deras karena rawan kabut tebal dan longsor.
Ada parkir mobil nggak?
Ada, tapi terbatas. Parkirnya memanfaatkan bahu jalan yang agak lebar di depan warung-warung. Kalau akhir pekan, mungkin agak susah cari spot parkir mobil yang pas di depan warung favorit, jadi siap-siap jalan sedikit.
Bagaimana kondisi toilet di sana?
Toilet umum tersedia di beberapa warung, namun kondisinya sangat sederhana (jangan bandingkan dengan toilet mall). Airnya bersih tapi super dingin. Disarankan buang air kecil dulu sebelum berangkat ke sini demi kenyamanan.
Lihat Sumber Informasi dan Gambar
Referensi Tulisan: 01. https://www.google.com/maps/
02. https://tugumalang.id/
Ditulis oleh  Rachel Wijayani (cel)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *