Menilik Masjid Baitur Rohman Lumajang, Ikon Religius yang Berusia Seabad
Masjid Baitur Rohman, yang berdiri di Dusun Munder,
Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, merupakan salah satu masjid
tertua di Jawa Timur. Bangunan bersejarah ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi
juga menjadi simbol penyebaran Islam di Lumajang sejak awal abad ke-20.
![]() |
| Sumber Gambar: detikcom |
Hingga kini, masjid ini masih kokoh dan terus
menyimpan kisah perjalanan religius serta nilai budaya yang tidak ternilai. Masjid
ini diyakini mulai berdiri sekitar tahun 1911.
Beberapa catatan administratif menyebut 1912, namun
kesepakatan umum menempatkan usia masjid sudah lebih dari seabad. Perbedaan
tahun tersebut tidak mengurangi nilai sejarah yang melekat pada bangunan
religius ini.
Sejarah
Singkat Masjid Baitur Rohman
Pendirian masjid ini digagas oleh Kiai Usman, seorang
ulama as6al Trenggalek yang merantau ke Lumajang untuk berdakwah. Pada awalnya,
bangunan ini berfungsi layaknya surau sederhana tempat masyarakat mengaji dan
melaksanakan ibadah harian.
Seiring berkembangnya dakwah dan jumlah jamaah, masjid
diperluas melalui proses renovasi besar antara tahun 1923 hingga 1933. Renovasi
tersebut didukung penuh oleh para santri serta tokoh masyarakat, termasuk Kiai
Suhaemi, yang dikenal sebagai murid sekaligus penerus perjuangan Kiai Usman.
Hingga kini, bentuk arsitektur hasil renovasi itu
sebagian besar masih dipertahankan. Di belakang masjid, terdapat makam tokoh
pendiri yang tetap menjadi tujuan peziarah dalam rangka wisata religi Lumajang.
Hal ini menambah daya tarik sekaligus menegaskan posisi masjid sebagai salah satu
masjid bersejarah di Jawa Timur.
BACA JUGA: Sejarah Lumajang dan Wisata Religi: Menapak Jejak Lamajang Kuno di Lereng Semeru
Arsitektur
dan Filosofi Simbolis
Bangunan Masjid Baitur Rohman memiliki ciri khas yang
sarat simbol keagamaan. Elemen-elemen arsitekturalnya tidak hanya berfungsi
secara fisik, tetapi juga memiliki makna filosofis mendalam:
- Lima anak tangga di teras melambangkan
lima rukun Islam.
- Tiga pintu utama dan tiga ruang imam dipahami sebagai simbol rukun iman.
- Sekitar 20 jendela ditafsirkan
sebagai pengingat sifat-sifat wajib Allah.
Mengapa desainnya
dipertahankan hingga sekarang?
Menurut tokoh masyarakat, bentuk asli dipertahankan
untuk menghormati sejarah dan menjaga nilai spiritual. Renovasi dilakukan
dengan hati-hati, bahkan diceritakan para santri kala itu melibatkan ritual
kesucian tertentu agar bangunan tetap membawa keberkahan.
Di tengah maraknya pembangunan masjid modern dengan
gaya minimalis, kehadiran arsitektur klasik Baitur Rohman memberikan sentuhan
berbeda. Atap bertingkat dengan kubah-kubah kecil menjadi penanda khas, yang
sekaligus mempertegas warisan arsitektur tradisional Jawa.
![]() |
| Sumber Gambar: Kelumajang |
Peran Sosial
dan Religius
Selama lebih dari seabad, masjid ini tidak hanya
berfungsi sebagai tempat salat. Ia juga menjadi pusat pendidikan agama, tempat
pengajian, dan titik temu masyarakat untuk berbagai kegiatan sosial.
Bagi sebagian orang, berkunjung ke masjid ini bukan
sekadar beribadah, tetapi juga bagian dari wisata religi Lumajang. Letaknya
yang masih mempertahankan nuansa pedesaan membuat suasana religius terasa
kental. Para peziarah kerap mendatangi makam ulama di sekitar masjid,
menjadikannya tujuan spiritual sekaligus budaya.
Masjid ini pun berperan penting dalam penyebaran Islam
di Lumajang. Sejak awal abad ke-20, ia menjadi titik dakwah, tempat generasi
demi generasi belajar agama, dan simbol kuat kebersamaan warga Desa Tukum.
Status Cagar Budaya dan Upaya Pelestarian
Apakah Masjid Baitur Rohman termasuk cagar budaya resmi?Secara formal, status administratifnya masih sering diperdebatkan. Namun,
berbagai laporan pemerintah daerah dan komunitas menempatkan masjid ini dalam
kategori bangunan bersejarah yang layak disebut sebagai cagar budaya.
Kesadaran masyarakat akan nilai sejarah ini sangat
tinggi. Beberapa program pelestarian digelar, mulai dari kegiatan gotong
royong, edukasi sejarah kepada pelajar, hingga wacana peresmian sebagai cagar
budaya resmi oleh pemerintah kabupaten.
Langkah-langkah ini penting agar generasi muda
tidak hanya mengenal masjid sebagai tempat ibadah, tetapi juga memahami konteks
sejarah panjang yang melekat di dalamnya.
BACA JUGA: Menguak Sejarah Lumajang: Asal Usul Nama, Kerajaan, dan Budaya
Perawatan,
Tantangan, dan Harapan
Walau terawat, usia bangunan yang sudah seabad membawa
tantangan tersendiri. Kelembapan, perubahan cuaca, dan kerentanan material
tradisional menjadi faktor yang harus diwaspadai. Jika tidak dirawat sesuai
standar konservasi, keaslian bangunan bisa terancam.
Oleh karena itu, masyarakat bersama tokoh agama
menekankan perlunya restorasi yang sesuai kaidah pelestarian. Artinya, setiap
upaya perbaikan tidak boleh merusak elemen asli masjid.
Harapan besar muncul agar pemerintah daerah memberi
perhatian lebih, baik berupa regulasi perlindungan maupun dukungan anggaran.
Dengan begitu, Masjid Baitur Rohman dapat tetap berdiri kokoh sebagai masjid
bersejarah di Jawa Timur dan ikon religius Lumajang.
Masjid Baitur Rohman bukan hanya bangunan tua, tetapi
warisan spiritual yang merekam jejak dakwah, pendidikan, dan kebersamaan
masyarakat Desa Tukum. Ia telah menjadi saksi penyebaran Islam di Lumajang dan
hingga kini masih berperan sebagai pusat religius serta sosial.
Sebagai salah satu cagar budaya lokal, masjid ini
layak mendapat perhatian lebih, bukan hanya dari masyarakat sekitar, tetapi
juga dari generasi muda yang ingin merawat identitas budaya dan religius
bangsa. Menilik Masjid Baitur Rohman berarti menengok sejarah panjang yang
masih hidup hingga hari ini, sebuah ikon yang menghubungkan masa lalu, kini,
dan masa depan.
Penulis:
Avifa
.png)


