Fungsi Candi Tikus: Petirtaan Suci, Kolam Kerajaan, atau Keduanya?
Di balik kemegahan peninggalan Kerajaan Majapahit, tersimpan sebuah struktur unik yang terus memicu perdebatan: Candi Tikus. Terletak di Trowulan, Mojokerto, candi ini tidak menjulang tinggi layaknya tempat pemujaan, melainkan terbenam anggun di dalam kolam.
Keunikannya
ini melahirkan pertanyaan besar: Apa sebenarnya fungsi Candi Tikus pada
masanya?
Apakah
ini murni petirtaan suci untuk ritual kerajaan? Sebuah kolam pemandian mewah
bagi keluarga raja? Ataukah sebuah instalasi teknis yang jauh lebih kompleks?
Candi Tikus adalah saksi bisu kecanggihan sistem tata air Majapahit, sebuah warisan agung yang menyimpan misteri. Mari kita telusuri berbagai teori untuk menemukan jawabannya.

Sekilas
Penemuan dan Lokasi Candi
Sebelum
membedah fungsinya, kita perlu memahami konteks penemuannya. Candi Tikus
terkubur selama berabad-abad hingga ditemukan kembali secara tidak sengaja pada
tahun 1914.
Jantung
Ibu Kota Trowulan
Lokasi
candi ini sangat penting. Ia berada di situs Trowulan, kawasan yang
diyakini para ahli sebagai pusat ibu kota (kotaraja) Majapahit.
Keberadaannya
di pusat pemerintahan menunjukkan bahwa candi ini memegang peranan vital, bukan
sekadar bangunan pelengkap.
Baca Juga:Candi Tikus: Gerbang Menuju Jantung Kota Majapahit
Dari
Sarang Hama Menjadi Cagar Budaya
Nama
"Tikus" yang unik berasal dari laporan penemuannya. Saat ditemukan,
gundukan tanah yang menutupi candi konon telah menjadi sarang tikus.
Setelah
proses ekskavasi dan pemugaran yang cermat, barulah terungkap bentuk aslinya
yang menawan: sebuah kompleks pemandian suci yang utuh, terbuat dari
susunan batu bata merah presisi khas arsitektur Majapahit.
Arsitektur
yang Menjadi Kunci Jawaban
Petunjuk
terbesar dari fungsi Candi Tikus justru terletak pada desain arsitekturnya yang
cerdas.
Desain
Petirtaan, Bukan Pemujaan
Struktur
utama candi ini adalah sebuah kolam persegi yang terbenam. Di tengahnya,
berdiri sebuah bangunan utama yang dikelilingi kolam-kolam lebih kecil di teras
yang lebih tinggi.
Desain
ini sangat khas untuk sebuah petirtaan (tempat pemandian), bukan candi pemujaan
(tempat meletakkan arca dewa). Fokusnya jelas pada elemen air yang mengalir.
Miniatur
Gunung Suci Meru
Bangunan
utama di tengah diyakini sebagai miniatur Gunung Meru, gunung kosmik yang
dianggap suci dalam mitologi Hindu-Buddha.
Dari
"puncak" miniatur Meru inilah air akan memancar keluar melalui
puluhan pancuran (disebut jaladwara) yang berbentuk makara (makhluk
mitologi) dan kuncup teratai (padma). Air ini kemudian akan mengalir mengisi
kolam-kolam di bawahnya.
.webp)
Menguak
Tiga Teori Utama Fungsi Candi Tikus
Dari
desain arsitektur yang canggih inilah, para ahli sejarah dan arkeologi
merumuskan setidaknya tiga teori utama mengenai fungsi Candi Tikus.
Teori
1: Petirtaan Suci (Ritual Penyucian)
Teori
ini adalah yang paling kuat dan diterima secara luas. Air yang memancar dari
puncak miniatur Meru dianggap sebagai Tirta Amerta—air kehidupan atau
air suci.
Keluarga
kerajaan Majapahit diyakini menggunakan tempat ini untuk ritual penyucian
diri (susrusa). Mereka mandi dengan air suci ini sebelum
melaksanakan upacara keagamaan besar, penobatan raja, atau ritual penting
lainnya.
Fungsi
ini juga berkaitan erat dengan upacara kesuburan, memohon kemakmuran bagi
kerajaan dengan menyucikan diri menggunakan air dari "gunung suci".
Teori
2: Jantung Sistem Manajemen Air Ibu Kota
Teori
kedua bersifat lebih teknis. Candi Tikus dipandang sebagai bagian vital dari
sistem tata air Majapahit yang legendaris.
Beberapa
ahli berpendapat candi ini berfungsi sebagai water control atau
reservoir (penampungan air) untuk mengatur suplai air bersih di kawasan ibu
kota.
Saluran-saluran
air yang terhubung dengannya menunjukkan sebuah sistem hidraulik yang canggih,
mungkin untuk mengairi taman-taman kerajaan atau bahkan sebagai pengendali
banjir skala kecil.
Teori
3: Kolam Pemandian Rekreasi Kerajaan?
Bagaimana
dengan teori "kolam kerajaan"? Apakah mungkin candi ini hanya tempat
keluarga raja bersantai?
Meskipun
aspek rekreasinya mungkin ada, fungsi utamanya diyakini tidak se-profan itu.
Berbeda dengan kolam renang modern, setiap elemen di Candi Tikus sarat dengan
simbolisme spiritual.
Jika
pun digunakan untuk "bersantai", itu adalah relaksasi yang bersifat
spiritual, bukan sekadar rekreasi fisik.
Jadi, Mana yang Benar?
Jawaban
yang paling mungkin adalah: keduanya, atau bahkan ketiganya, saling terkait.
Bagi
peradaban Majapahit, aspek teknis (manajemen air) dan aspek spiritual (ritual
suci) tidak dapat dipisahkan.
Sangat
mungkin Candi Tikus adalah sebuah mahakarya yang berfungsi ganda: sebagai pusat
ritual penyucian yang sakral, yang sekaligus ditenagai oleh sistem
manajemen air teknis yang canggih untuk kebutuhan ibu kota.
Warisan
Agung Teknologi dan Spiritualitas
Apapun
perdebatan fungsinya, Candi Tikus adalah warisan agung Majapahit. Ia adalah
bukti tak terbantahkan bahwa leluhur kita telah menguasai teknologi hidraulik
(tata air) dan arsitektur yang luar biasa.
Kini, sebagai cagar budaya Mojokerto yang dilindungi, Candi Tikus menjadi jendela bagi kita untuk memahami Sejarah Candi Tikus Mojokerto secara utuh. Ia mengajarkan kita bagaimana Majapahit memandang air bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi juga sumber spiritualitas.
Jawaban
di Aliran Air Majapahit
Fungsi
Candi Tikus tidaklah tunggal. Ia adalah sebuah petirtaan suci untuk ritual
kerajaan, sekaligus bukti kemajuan teknologi tata air.
Mempelajari
Candi Tikus adalah mempelajari bagaimana Majapahit menyatukan spiritualitas dan
kecerdasan teknis dalam satu mahakarya arsitektur. Melestarikannya berarti
menjaga ingatan akan keagungan peradaban yang menjadikan air sebagai pusat
kehidupan dan ritual.
.png)
