Sabtu, 25 Oktober 2025

Fungsi Candi Tikus: Petirtaan Suci, Kolam Kerajaan, atau Keduanya?

Di balik kemegahan peninggalan Kerajaan Majapahit, tersimpan sebuah struktur unik yang terus memicu perdebatan: Candi Tikus. Terletak di Trowulan, Mojokerto, candi ini tidak menjulang tinggi layaknya tempat pemujaan, melainkan terbenam anggun di dalam kolam.

Keunikannya ini melahirkan pertanyaan besar: Apa sebenarnya fungsi Candi Tikus pada masanya?

Apakah ini murni petirtaan suci untuk ritual kerajaan? Sebuah kolam pemandian mewah bagi keluarga raja? Ataukah sebuah instalasi teknis yang jauh lebih kompleks?

Candi Tikus adalah saksi bisu kecanggihan sistem tata air Majapahit, sebuah warisan agung yang menyimpan misteri. Mari kita telusuri berbagai teori untuk menemukan jawabannya.

Fungsi Candi Tikus: Petirtaan Suci, Kolam Kerajaan, atau Keduanya?

Sekilas Penemuan dan Lokasi Candi

Sebelum membedah fungsinya, kita perlu memahami konteks penemuannya. Candi Tikus terkubur selama berabad-abad hingga ditemukan kembali secara tidak sengaja pada tahun 1914.

Jantung Ibu Kota Trowulan

Lokasi candi ini sangat penting. Ia berada di situs Trowulan, kawasan yang diyakini para ahli sebagai pusat ibu kota (kotaraja) Majapahit.

Keberadaannya di pusat pemerintahan menunjukkan bahwa candi ini memegang peranan vital, bukan sekadar bangunan pelengkap.


Baca Juga:Candi Tikus: Gerbang Menuju Jantung Kota Majapahit


Dari Sarang Hama Menjadi Cagar Budaya

Nama "Tikus" yang unik berasal dari laporan penemuannya. Saat ditemukan, gundukan tanah yang menutupi candi konon telah menjadi sarang tikus.

Setelah proses ekskavasi dan pemugaran yang cermat, barulah terungkap bentuk aslinya yang menawan: sebuah kompleks pemandian suci yang utuh, terbuat dari susunan batu bata merah presisi khas arsitektur Majapahit.

Vendor Outbound

Arsitektur yang Menjadi Kunci Jawaban

Petunjuk terbesar dari fungsi Candi Tikus justru terletak pada desain arsitekturnya yang cerdas.

Desain Petirtaan, Bukan Pemujaan

Struktur utama candi ini adalah sebuah kolam persegi yang terbenam. Di tengahnya, berdiri sebuah bangunan utama yang dikelilingi kolam-kolam lebih kecil di teras yang lebih tinggi.

Desain ini sangat khas untuk sebuah petirtaan (tempat pemandian), bukan candi pemujaan (tempat meletakkan arca dewa). Fokusnya jelas pada elemen air yang mengalir.

Miniatur Gunung Suci Meru

Bangunan utama di tengah diyakini sebagai miniatur Gunung Meru, gunung kosmik yang dianggap suci dalam mitologi Hindu-Buddha.

Dari "puncak" miniatur Meru inilah air akan memancar keluar melalui puluhan pancuran (disebut jaladwara) yang berbentuk makara (makhluk mitologi) dan kuncup teratai (padma). Air ini kemudian akan mengalir mengisi kolam-kolam di bawahnya.

Fungsi Candi Tikus: Petirtaan Suci, Kolam Kerajaan, atau Keduanya?

Menguak Tiga Teori Utama Fungsi Candi Tikus

Dari desain arsitektur yang canggih inilah, para ahli sejarah dan arkeologi merumuskan setidaknya tiga teori utama mengenai fungsi Candi Tikus.

Teori 1: Petirtaan Suci (Ritual Penyucian)

Teori ini adalah yang paling kuat dan diterima secara luas. Air yang memancar dari puncak miniatur Meru dianggap sebagai Tirta Amerta—air kehidupan atau air suci.

Keluarga kerajaan Majapahit diyakini menggunakan tempat ini untuk ritual penyucian diri (susrusa). Mereka mandi dengan air suci ini sebelum melaksanakan upacara keagamaan besar, penobatan raja, atau ritual penting lainnya.

Fungsi ini juga berkaitan erat dengan upacara kesuburan, memohon kemakmuran bagi kerajaan dengan menyucikan diri menggunakan air dari "gunung suci".

Teori 2: Jantung Sistem Manajemen Air Ibu Kota

Teori kedua bersifat lebih teknis. Candi Tikus dipandang sebagai bagian vital dari sistem tata air Majapahit yang legendaris.

Beberapa ahli berpendapat candi ini berfungsi sebagai water control atau reservoir (penampungan air) untuk mengatur suplai air bersih di kawasan ibu kota.

Saluran-saluran air yang terhubung dengannya menunjukkan sebuah sistem hidraulik yang canggih, mungkin untuk mengairi taman-taman kerajaan atau bahkan sebagai pengendali banjir skala kecil.

Teori 3: Kolam Pemandian Rekreasi Kerajaan?

Bagaimana dengan teori "kolam kerajaan"? Apakah mungkin candi ini hanya tempat keluarga raja bersantai?

Meskipun aspek rekreasinya mungkin ada, fungsi utamanya diyakini tidak se-profan itu. Berbeda dengan kolam renang modern, setiap elemen di Candi Tikus sarat dengan simbolisme spiritual.

Jika pun digunakan untuk "bersantai", itu adalah relaksasi yang bersifat spiritual, bukan sekadar rekreasi fisik.

Jadi, Mana yang Benar?

Jawaban yang paling mungkin adalah: keduanya, atau bahkan ketiganya, saling terkait.

Bagi peradaban Majapahit, aspek teknis (manajemen air) dan aspek spiritual (ritual suci) tidak dapat dipisahkan.

Sangat mungkin Candi Tikus adalah sebuah mahakarya yang berfungsi ganda: sebagai pusat ritual penyucian yang sakral, yang sekaligus ditenagai oleh sistem manajemen air teknis yang canggih untuk kebutuhan ibu kota.

Vendor Outbound

Warisan Agung Teknologi dan Spiritualitas

Apapun perdebatan fungsinya, Candi Tikus adalah warisan agung Majapahit. Ia adalah bukti tak terbantahkan bahwa leluhur kita telah menguasai teknologi hidraulik (tata air) dan arsitektur yang luar biasa.

Kini, sebagai cagar budaya Mojokerto yang dilindungi, Candi Tikus menjadi jendela bagi kita untuk memahami Sejarah Candi Tikus Mojokerto secara utuh. Ia mengajarkan kita bagaimana Majapahit memandang air bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi juga sumber spiritualitas. 

 

Jawaban di Aliran Air Majapahit

Fungsi Candi Tikus tidaklah tunggal. Ia adalah sebuah petirtaan suci untuk ritual kerajaan, sekaligus bukti kemajuan teknologi tata air.

Mempelajari Candi Tikus adalah mempelajari bagaimana Majapahit menyatukan spiritualitas dan kecerdasan teknis dalam satu mahakarya arsitektur. Melestarikannya berarti menjaga ingatan akan keagungan peradaban yang menjadikan air sebagai pusat kehidupan dan ritual.

 

Sumber Foto: Pinterest

Penulis:Reihan Danu Saputra

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *