Pura Luhur Giri Salaka Jantung Spiritual Banyuwangi yang Paling Sakral

Banyuwangi, yang masyhur dengan julukan The Sunrise of Java, sesungguhnya menyimpan lebih dari sekadar keindahan alam yang memukau. Di balik pesona Blue Fire Kawah Ijen dan panorama savana Baluran, terdapat sebuah titik kosmis yang menjadi pusat spiritual terpenting dan paling sakral bagi umat Hindu, khususnya di Jawa Timur: Pura Luhur Giri Salaka.

 

Berlokasi tersembunyi jauh di dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo sebuah hamparan hutan lebat yang sejak lama diselimuti narasi mistis dan legenda pura ini bukan sekadar destinasi wisata religi biasa. Pura Luhur Giri Salaka hadir sebagai pintu gerbang yang menghubungkan dimensi masa lalu Majapahit, kepercayaan leluhur, dan ketenangan batin yang sejati. Mengunjungi pura ini adalah sebuah perjalanan Tirtayatra (perjalanan suci) yang tidak hanya melibatkan fisik, tetapi juga hati dan jiwa, membawa peziarah menuju kedalaman spiritual yang menggetarkan.

 

siswa-outbound-dengan-alat-keselamatan-lengkap

Pura Luhur Giri Salaka: Kawitan dan Simpul Sejarah

Untuk memahami mengapa Pura Giri Salaka dianggap paling sakral, kita harus terlebih dahulu menelusuri akar sejarah dan kepercayaan yang melekat pada lokasi berdirinya.

 

Sejarah Panjang dari Runtuhnya Majapahit

Keberadaan Pura Luhur Giri Salaka dikaitkan erat dengan babak akhir Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Menurut usadha dan cerita turun-temurun, ketika keruntuhan terjadi, para manggala (pemimpin) dan maharsi Hindu memilih Alas Purwo sebagai lokasi pertama untuk bersembunyi dan membangun kembali spiritualitas.

 

Keyakinan ini memicu semangat kebangkitan kembali Hindu di Jawa, yang sering diucapkan sebagai ramalan bahwa setelah lima ratus tahun, anak cucu mereka akan kembali menagih bekas wilayah Majapahit. Pura ini, yang dipercaya didirikan di atas situs petapakan Maharesi suci, termasuk Empu Bharadah atau Rsi Markandiya sebelum beliau menuju Bali, menjadi sumbu kebangkitan tersebut. Pura ini adalah simbol kerinduan umat Hindu Banyuwangi untuk menelusuri kembali jejak kawitan (asal mula/leluhur) mereka.

 

Baca Juga : Pura Blambangan Simbol Religi dan Sejarah di Ujung Timur Jawa


Alas Purwo: Bumi Pradana dan Aura Malem-Linggih

Asal-usul kesucian Pura Giri Salaka tak dapat dilepaskan dari lokasi Taman Nasional Alas Purwo itu sendiri. Kawasan ini dipercaya sebagai Bumi Pradana, yakni tanah pertama yang muncul dari dasar laut saat proses penciptaan Pulau Jawa. Secara kosmologis, Alas Purwo dianggap sebagai tanah suci, tempat bersemayamnya energi alam semesta dan para Ida Batara yang malem-linggih (Dewa yang berdiam/bersemayam) yang tak terbatas pada satu golongan saja.

 

Inilah yang membuat aura di sekitar pura terasa begitu hening dan menentramkan. Umat yang datang bersembahyang atau makemit (bermalam/meditasi) seringkali merasakan kedamaian yang mendalam, seolah segala hiruk pikuk duniawi ditarik jauh, menyisakan koneksi murni dengan Sang Pencipta dan energi positif dari para leluhur yang menjaga kesucian pura.

 

Aura Mistis dan Keajaiban Sabda

Kesakralan Pura Giri Salaka bukan hanya didasarkan pada catatan sejarah, melainkan juga pada berbagai fenomena spiritual dan pengalaman nyata yang dialami oleh para peziarah dan masyarakat penyungsungnya (pemelihara/pemuja).

 

Kisah Bungkahan Bata dan Musibah Spiritual

Salah satu cerita yang paling sering diungkapkan adalah penemuan Pura Giri Salaka secara tidak sengaja pada tahun 1967. Saat masyarakat sekitar membabat hutan untuk bercocok tanam, mereka menemukan gundukan tanah yang ternyata menimbun bungkahan bata besar, persis seperti gapura kecil—sebuah situs peninggalan.

 

Keluguan masyarakat yang mengambil bata-bata kuno tersebut untuk dijadikan alas rumah atau tungku dapur konon telah menyebabkan musibah. Mereka jatuh sakit, hingga akhirnya muncul sabda (perintah/pesan gaib) yang meminta bongkahan bata dikembalikan ke tempatnya semula. Peristiwa ini menggarisbawahi kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo, menekankan bahwa tempat ini wajib dipuja oleh semua umat manusia tanpa dibatasi sekat-sekat golongan. Situs ini mengajarkan kita untuk selalu menghormati segala hal yang dianggap sakral.

 

Pemujaan dan Tunas Pejabat

Kesucian Pura Giri Salaka tidak perlu diragukan lagi. Berderet peristiwa yang menjadi pengalaman masyarakat penyungsung-nya telah memperkuat keyakinan ini. Saking besarnya kekuatan spiritual yang diyakini, sejumlah tokoh pejabat, politisi, maupun mantan pejabat terkenal diketahui pernah melakukan pemujaan di situs Alas Purwo ini.

 

Tujuan mereka pun bermacam-macam, namun sebagian besar memohon atau menunas (meminta restu atau harapan) kepada Ida Batara yang bersemayam di sana. Menurut para pemangku setempat, segala permohonan yang dipanjatkan akan kembali kepada swakarma (perbuatan) dan takdir dari peziarah itu sendiri. Hal ini menambah daya tarik yang unik, di mana kesakralan pura menjadi titik nol bagi siapa pun yang ingin mendekatkan diri kepada alam semesta dan mencari petunjuk batin.

 

Baca Juga : Pura Terbesar Banyuwangi Healing Spiritual di Tanah Blambangan


Suasana Upacara yang Menggetarkan Hati

Mengunjungi Pura Giri Salaka saat perayaan besar, seperti Hari Raya Pagerwesi, Kuningan, atau Piodalan (hari jadi pura), adalah pengalaman spiritual yang sulit dilupakan. Umat Hindu dari berbagai daerah berkumpul, mengenakan pakaian adat, membawa sesaji, dan melaksanakan ritual.

 

Warna-warni kain poleng (kain kotak-kotak hitam putih), aroma dupa yang mengepul, dan suara gamelan yang berpadu dengan bisikan dikir atau mantra para peziarah, menciptakan pemandangan yang memukau sekaligus menggetarkan hati. Atmosfer khidmat ini secara visual dan spiritual menunjukkan kekayaan budaya dan tingginya tingkat kesakralan pura ini.

 

Etika dan Panduan Berziarah ke Tanah Suci

Mengingat statusnya sebagai pura yang paling sakral, setiap pengunjung, baik peziarah Hindu maupun wisatawan non-Hindu, wajib mematuhi etika dan dharma (kewajiban moral) yang berlaku.

 

Adab Berpakaian dan Bersikap

Pakaian Sopan: Wajib mengenakan pakaian yang tertutup dan sopan, serta mengenakan selendang atau kain adat (kamen) sebagai bentuk penghormatan terhadap tempat suci dan tradisi lokal.

 

Jaga Sikap dan Ucapan: Hindari mengeluarkan perkataan yang kasar, jorok, atau meremehkan hal-hal yang dianggap sakral, terutama saat berada di dalam kawasan Alas Purwo.

 

Hormati Prosesi: Jika upacara keagamaan sedang berlangsung, pastikan untuk menjaga jarak, tidak mengganggu, dan menghormati prosesi yang sedang dilakukan oleh umat Hindu.

 

Lokasi dan Akses

Pura ini terletak sekitar 60 km dari pusat Kota Banyuwangi, menuntut perjalanan melewati jalan hutan yang rindang, menambah sensasi petualangan dan nuansa magis. Disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi atau jasa pemandu lokal yang memahami medan dan sejarah pura agar perjalanan suci ini dapat berjalan lancar dan penuh makna.

 

Vendor Outbound Batu Malang

Pura Luhur Giri Salaka adalah permata spiritual Banyuwangi. Kehadirannya di tengah hutan lebat Alas Purwo adalah pengingat akan sejarah, legenda, dan kekuatan spiritual yang masih hidup dan terus dijaga. Pura ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan; ia menawarkan ketenangan, inspirasi, dan pemahaman yang lebih dalam tentang spiritualitas Nusantara.

 

 

Penulis : Karina Dewi Tatontos (rin)

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *