Candi Mandhara Giri Lumajang: Sejarah Pura Semeru Agung di Lereng Gunung Semeru
Di lereng Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau
Jawa yang dijuluki Mahameru, berdiri sebuah kompleks suci yang dikenal dengan
nama Candi Mandhara Giri Lumajang atau lebih resmi disebut Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Bagi umat Hindu, pura ini bukan sekadar tempat ibadah,
melainkan simbol iman, identitas, dan warisan budaya Jawa Timur yang kaya
makna.
![]() |
| Sumber Gambar: Canva |
Sejak diresmikan pada awal 1990-an, Pura Mandara Giri
telah menjadi salah satu pusat wisata budaya dan religi yang menarik
peziarah maupun wisatawan. Kehadirannya tidak hanya menyemarakkan kehidupan
spiritual umat Hindu di Lumajang, tetapi juga memberi dampak sosial dan ekonomi
bagi masyarakat lokal.
Sejarah Pura
Mandara Giri Semeru Agung
Awal Mula
dan Dorongan Pendirian
Sejarah pura ini berakar sejak 1969, ketika umat Hindu
di Desa Senduro mulai merasakan kebutuhan akan tempat ibadah permanen. Selama
bertahun-tahun, mereka hanya mengandalkan sanggar-sanggar sederhana sebagai
lokasi sembahyang.
Tradisi nuur tirta—mengambil air suci dari Bali
untuk disemayamkan di kaki Gunung Semeru semakin menguatkan niat umat. Ritual
ini diyakini membuka jalan bagi lahirnya gagasan mendirikan pura yang lebih
besar dan lebih layak.
Pembangunan
Bertahap
Pembangunan fisik pura baru mulai digarap pada akhir
1980-an. Sumber lokal menyebutkan tahun 1988 sebagai awal konstruksi, meski
banyak yang menilai pembangunan berjalan secara bertahap dan belum selesai
sekaligus.
Puncaknya terjadi pada 11 Mei 1992, ketika Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) mengesahkan status pura ini sebagai Pura Kahyangan Jagat melalui Keputusan Nomor 07/Kep/V/PHDI/1992. Sejak saat itu, nama Mandhara Giri Semeru Agung resmi melekat sebagai simbol pura yang berfungsi melayani umat Hindu dari berbagai penjuru.
BACA JUGA: Mengenal Upacara Adat Yadnya Karo di Lumajang, Tradisi Suku Tengger Penuh Makna
Pemilihan
Lokasi dan Pawisik
Pemilihan lokasi pura tidak dilakukan secara
sembarangan. Beberapa opsi sempat muncul, termasuk kawasan Kertasari, namun
ditolak karena rawan lahar Gunung Semeru.
Akhirnya, Desa Senduro dipilih berdasarkan pawisik
(petunjuk gaib) yang diterima para tokoh spiritual. Konon, salah satu tanda
keistimewaan lokasi tersebut adalah aroma harum tanah yang diyakini membawa
berkah.
Bagi umat Hindu, mendirikan pura di lereng Semeru memiliki makna kosmologis. Gunung Semeru dianggap sebagai representasi Mahameru pusat alam semesta dalam kosmologi Hindu. Dengan demikian, kehadiran pura di lerengnya menjadi bentuk penyematan kesucian di bumi Jawa.
Arsitektur
dan Perkembangan Pura
Gaya
Arsitektur
Arsitektur Candi Mandara Giri dipengaruhi oleh gaya
Bali, dengan sentuhan lokal dan unsur warisan budaya Jawa Timur. Ciri
khasnya terlihat pada candi bentar dan candi kurung sebagai gerbang masuk,
serta bangunan bale yang berfungsi untuk berbagai keperluan ritual.
Beberapa struktur utama di dalam kompleks pura antara
lain:
- Padmasana, titik tertinggi dan pusat pemujaan.
- Bale gong, bale patok, bale kulkul, dan gedong simpen.
- Wantilan, bangunan besar untuk kegiatan bersama.
- Pasraman sulinggih, tempat
belajar agama dan pelestarian tradisi.
Perluasan
Area
Awalnya, pura hanya berdiri di lahan berukuran sekitar
25 × 60 meter. Namun, seiring perkembangan kebutuhan, kompleks ini diperluas
hingga mencapai sekitar 1,4 hektar. Dengan lahan yang lebih luas, pura kini
mampu menampung ribuan umat saat upacara besar.
![]() |
| Sumber Gambar: Jembrana Express |
Aktivitas
Keagamaan dan Kehidupan Sosial
Pura Mandhara Giri tidak pernah benar-benar sepi.
Setiap hari selalu ada umat yang datang untuk bersembahyang, baik dari sekitar
Lumajang maupun daerah lain.
Ritual besar seperti Purnama, Tilem, Galungan, dan
Kuningan menjadi momen puncak yang menghadirkan ribuan peziarah. Suasana penuh
khidmat bercampur dengan nuansa festival, menjadikan pura ini bukan hanya pusat
spiritual, tetapi juga magnet wisata budaya dan religi.
Di sekitar pura, kehidupan sosial masyarakat pun
berkembang. Muncul warung makan, kios cenderamata, penginapan sederhana, hingga
jasa pemandu wisata. Pura menjadi pusat aktivitas ekonomi yang menopang
kehidupan warga Senduro.
Makna
Filosofis dan Identitas
Secara filosofis, keberadaan pura ini melambangkan
upaya menghubungkan bumi dengan kosmos. Gunung Semeru sebagai Mahameru
menegaskan posisi pura sebagai titik spiritual yang menjaga keseimbangan alam.
Lebih dari itu, pura juga menjadi simbol identitas
bagi umat Hindu di Jawa Timur. Di tengah mayoritas masyarakat non-Hindu, Pura
Mandara Giri berdiri sebagai bukti nyata bahwa kerukunan bisa terjaga. Ia
menjadi ruang sakral yang dihormati lintas agama, menumbuhkan toleransi yang
harmonis.
BACA JUGA: Menguak Sejarah Lumajang: Asal Usul Nama, Kerajaan, dan Budaya
Dampak
Sosial, Budaya, dan Ekonomi
Keberadaan Pura Mandhara Giri membawa perubahan besar
bagi Desa Senduro dan sekitarnya.
- Sosial & Budaya: Tradisi Hindu
lokal semakin lestari. Generasi muda terlibat dalam kegiatan keagamaan
sekaligus mempelajari nilai leluhur.
- Ekonomi: Arus peziarah dan wisatawan memberi peluang
usaha baru. Warung, homestay, hingga kerajinan lokal tumbuh subur.
- Pendidikan & Wisata:
Sekolah-sekolah sering mengadakan kunjungan sebagai bagian dari
pembelajaran sejarah dan warisan budaya Jawa Timur.
Dengan demikian, pura ini tidak hanya berfungsi
religius, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan desa.
Candi Mandhara Giri Lumajang adalah kisah iman yang
berwujud nyata di lereng Semeru. Dari gagasan sederhana tahun 1969, pembangunan
bertahap di akhir 1980-an, hingga pengesahan resmi 1992, perjalanan pura ini
mencerminkan keteguhan hati umat Hindu.
Kini, pura berdiri megah sebagai pusat tempat ibadah
Hindu, simbol kerukunan, dan destinasi wisata budaya dan religi yang terus
hidup bersama masyarakat.
Semoga generasi mendatang tidak hanya melihatnya
sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga merawatnya sebagai ruang hidup yang
membawa inspirasi, keharmonisan, dan kebanggaan bagi Jawa Timur serta
Indonesia.
Penulis:
Avifa
.png)


