Jumat, 26 September 2025

Candi Mandhara Giri Lumajang: Sejarah Pura Semeru Agung di Lereng Gunung Semeru

Di lereng Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa yang dijuluki Mahameru, berdiri sebuah kompleks suci yang dikenal dengan nama Candi Mandhara Giri Lumajang atau lebih resmi disebut Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Bagi umat Hindu, pura ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol iman, identitas, dan warisan budaya Jawa Timur yang kaya makna.

Candi Mandhara Giri Semeru Agung Lumajang
Sumber Gambar: Canva

Sejak diresmikan pada awal 1990-an, Pura Mandara Giri telah menjadi salah satu pusat wisata budaya dan religi yang menarik peziarah maupun wisatawan. Kehadirannya tidak hanya menyemarakkan kehidupan spiritual umat Hindu di Lumajang, tetapi juga memberi dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal.

 

Sejarah Pura Mandara Giri Semeru Agung

Awal Mula dan Dorongan Pendirian

Sejarah pura ini berakar sejak 1969, ketika umat Hindu di Desa Senduro mulai merasakan kebutuhan akan tempat ibadah permanen. Selama bertahun-tahun, mereka hanya mengandalkan sanggar-sanggar sederhana sebagai lokasi sembahyang.

Tradisi nuur tirta—mengambil air suci dari Bali untuk disemayamkan di kaki Gunung Semeru semakin menguatkan niat umat. Ritual ini diyakini membuka jalan bagi lahirnya gagasan mendirikan pura yang lebih besar dan lebih layak.

Pembangunan Bertahap

Pembangunan fisik pura baru mulai digarap pada akhir 1980-an. Sumber lokal menyebutkan tahun 1988 sebagai awal konstruksi, meski banyak yang menilai pembangunan berjalan secara bertahap dan belum selesai sekaligus.

Puncaknya terjadi pada 11 Mei 1992, ketika Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) mengesahkan status pura ini sebagai Pura Kahyangan Jagat melalui Keputusan Nomor 07/Kep/V/PHDI/1992. Sejak saat itu, nama Mandhara Giri Semeru Agung resmi melekat sebagai simbol pura yang berfungsi melayani umat Hindu dari berbagai penjuru.


BACA JUGA: Mengenal Upacara Adat Yadnya Karo di Lumajang, Tradisi Suku Tengger Penuh Makna


Pemilihan Lokasi dan Pawisik

Pemilihan lokasi pura tidak dilakukan secara sembarangan. Beberapa opsi sempat muncul, termasuk kawasan Kertasari, namun ditolak karena rawan lahar Gunung Semeru.

Akhirnya, Desa Senduro dipilih berdasarkan pawisik (petunjuk gaib) yang diterima para tokoh spiritual. Konon, salah satu tanda keistimewaan lokasi tersebut adalah aroma harum tanah yang diyakini membawa berkah.

Bagi umat Hindu, mendirikan pura di lereng Semeru memiliki makna kosmologis. Gunung Semeru dianggap sebagai representasi Mahameru pusat alam semesta dalam kosmologi Hindu. Dengan demikian, kehadiran pura di lerengnya menjadi bentuk penyematan kesucian di bumi Jawa.

Vendor Outbound Batu Malang

Arsitektur dan Perkembangan Pura

Gaya Arsitektur

Arsitektur Candi Mandara Giri dipengaruhi oleh gaya Bali, dengan sentuhan lokal dan unsur warisan budaya Jawa Timur. Ciri khasnya terlihat pada candi bentar dan candi kurung sebagai gerbang masuk, serta bangunan bale yang berfungsi untuk berbagai keperluan ritual.

Beberapa struktur utama di dalam kompleks pura antara lain:

  • Padmasana, titik tertinggi dan pusat pemujaan.
  • Bale gong, bale patok, bale kulkul, dan gedong simpen.
  • Wantilan, bangunan besar untuk kegiatan bersama.
  • Pasraman sulinggih, tempat belajar agama dan pelestarian tradisi.

Perluasan Area

Awalnya, pura hanya berdiri di lahan berukuran sekitar 25 × 60 meter. Namun, seiring perkembangan kebutuhan, kompleks ini diperluas hingga mencapai sekitar 1,4 hektar. Dengan lahan yang lebih luas, pura kini mampu menampung ribuan umat saat upacara besar.

Candi Mandhara Giri Lumajang
Sumber Gambar: Jembrana Express

Aktivitas Keagamaan dan Kehidupan Sosial

Pura Mandhara Giri tidak pernah benar-benar sepi. Setiap hari selalu ada umat yang datang untuk bersembahyang, baik dari sekitar Lumajang maupun daerah lain.

Ritual besar seperti Purnama, Tilem, Galungan, dan Kuningan menjadi momen puncak yang menghadirkan ribuan peziarah. Suasana penuh khidmat bercampur dengan nuansa festival, menjadikan pura ini bukan hanya pusat spiritual, tetapi juga magnet wisata budaya dan religi.

Di sekitar pura, kehidupan sosial masyarakat pun berkembang. Muncul warung makan, kios cenderamata, penginapan sederhana, hingga jasa pemandu wisata. Pura menjadi pusat aktivitas ekonomi yang menopang kehidupan warga Senduro.

 

Makna Filosofis dan Identitas

Secara filosofis, keberadaan pura ini melambangkan upaya menghubungkan bumi dengan kosmos. Gunung Semeru sebagai Mahameru menegaskan posisi pura sebagai titik spiritual yang menjaga keseimbangan alam.

Lebih dari itu, pura juga menjadi simbol identitas bagi umat Hindu di Jawa Timur. Di tengah mayoritas masyarakat non-Hindu, Pura Mandara Giri berdiri sebagai bukti nyata bahwa kerukunan bisa terjaga. Ia menjadi ruang sakral yang dihormati lintas agama, menumbuhkan toleransi yang harmonis.


BACA JUGA: Menguak Sejarah Lumajang: Asal Usul Nama, Kerajaan, dan Budaya

 

Dampak Sosial, Budaya, dan Ekonomi

Keberadaan Pura Mandhara Giri membawa perubahan besar bagi Desa Senduro dan sekitarnya.

  • Sosial & Budaya: Tradisi Hindu lokal semakin lestari. Generasi muda terlibat dalam kegiatan keagamaan sekaligus mempelajari nilai leluhur.
  • Ekonomi: Arus peziarah dan wisatawan memberi peluang usaha baru. Warung, homestay, hingga kerajinan lokal tumbuh subur.
  • Pendidikan & Wisata: Sekolah-sekolah sering mengadakan kunjungan sebagai bagian dari pembelajaran sejarah dan warisan budaya Jawa Timur.

Dengan demikian, pura ini tidak hanya berfungsi religius, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan desa.

Vendor Outbound Batu Malang

Candi Mandhara Giri Lumajang adalah kisah iman yang berwujud nyata di lereng Semeru. Dari gagasan sederhana tahun 1969, pembangunan bertahap di akhir 1980-an, hingga pengesahan resmi 1992, perjalanan pura ini mencerminkan keteguhan hati umat Hindu.

Kini, pura berdiri megah sebagai pusat tempat ibadah Hindu, simbol kerukunan, dan destinasi wisata budaya dan religi yang terus hidup bersama masyarakat.

Semoga generasi mendatang tidak hanya melihatnya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga merawatnya sebagai ruang hidup yang membawa inspirasi, keharmonisan, dan kebanggaan bagi Jawa Timur serta Indonesia.

 

Penulis: Avifa

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *